Artikel Berita
Hari : Senin
Tanggal : 11 September 2017
Hadir Di KTT OKI
Wapres
Jusuf Kalla Menghadiri Pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pertama Organisasi
Kerja Sama Islam (OKI) di Astana, Kazakhstan, Kemarin.
Referensi : Rakyat
Merdeka
Komisi X Soroti Personil Inasgoc
Meragukan : Personil Inasgoc Dinilai Bukan
Respresentasi tokoh olahraga nasional.
JAKARTA-
Darurat
Prestasi olahraga Indonesia menjadi sorotan berbagai pihak pasca perolehan
mendali Sea Games ke 29 di Kuala Lumpur 2017 lalu. Diman Indonesia kembali
menepati posisi ke 5 seperti Sea Games Ke-28 Tahun 2015 sebelumnya di
Singapura. Bahkan dalam perolehan mendali di Sea Games Kuala Lumpur merupakan
Prestasi terburuk sejak keikutsertaan Indonesia dalam Sea Games, Yaitu hanya
Jumlah 38 Mendali Emas, 63 berjumlah Perak, Dan 90 Perunggu. Hal tersebut
menjadi sorotan berbagai pihak termasuk Anggota Komisi X dari Fraksi PAN, Yayuk
Basuki yang menyentil Kredibilitas dan kapabilitas para pengurus olah raga di
Indonesia. “Kalau mau jujur coba lihat curruculum vitae para pengurus PB cabor,
KONI, KOI, Satlak Prima dan Panpel Asian Games, banyak yang berkompeten untuk
membesarkan Prestasi olah raga Indonesia. Jadi, jangan heran kalau polisi
Indonesia dalam berkompetisi dengan atlet internasional akan semakin tersisih,”
Ujar Yayuk di Jakarta, Kemarin. Terkait persiapan penyelenggaraan Asia Games
2018, Yayuk juga menyatakan Ketua Dewan Pengarah Asian Games dalam hal ini Wapres
Jusuf Kalla perlu mengevaluasi kembali ke panitiaan Asia Games untuk menghindari
gagalnya sukses penyelanggaraan Asia Games 2018 di Jakarta dan Palembang.
“Komisi
X sudah curiga ketika panitia Asia Games membengkak Jumlahnya dari 230 orang
menjadi sekitar 500 orang. Coba investigasi latar belakang masing masing orang
yang tertera namanya pada SK Nomor 026/Kep-panpel/pp-inasgoc/VI/2017.
Didalamnya banyak nama-nama yang sangat diragukan Kredibilitas dan kompetensinya
bahkan dibawah Deputy I, ada model majalah dewasa dengan inisial ‘SM’. Kami Meminta Pak JK sebagai Ketua Dewan Pengarah
Mengevaluasi kembali dan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab terhadap
banyaknya orang yang tidak pantas masuk kedalam kepanitiaan sebesar Asian Games
(Red Inasgoc) yang diharapkan akan membawa harum nama bangsa Indonesia.” Ujar Yayuk
yang juga mantan Atlet Tenis Kelas Dunia asal Indonesia ini. Yayuk juga
mengatakan ia sangat miris melihat gaji kepanitiaan Inasgoc dari 2016 hingga
akhir 2018 diperkirakan lebih dari 200 Milyar diluar total biaya
penyelenggaraan sekita Rp. 4 Triliun. Hal ini menurutnya tidak sebanding dengan
kondisi dukungan pendanaan atlet berprestasi Indonesia yang selalu dalam
situasi kekurangan, Keterlambatan dan tidak tepat sasaran.
Referensi : Indo Pos
KTT OKI
Wakil Presiden
: Jusuf Kalla menghadiri pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pertama
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Astana, Kazakhstan, Minggu (10/9). Wapres
Jusuf Kalla menyampaikan tentang usulan Program Unggulan dan Beasiswa kepada
Negara Anggota OKI serta pentingnya kerja sama antar Center of Excellence pada
Working Session I: Emerging Relations Between Science and Society in the 21st
Century.
Referensi : Bisnis
Indonesia
KTT OKI Soroti Teknologi
Pembukaan KTT OKI
: Wapres Juyuf Kalla menghadiri pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)
Pertama Organisasi Kerja sama Islam (OKI) di Astana, Kazakhstan. Ahad (10/9).
ASTANA-
Sebanyak
20 pemimpin dan perwakilan negara Islam berkumpul dalam konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) Organisasi Kerja sama Islam (OKI) di Astana, Kazakhstan. Kali ini,
mereka membahas kerja sama antara negara Islam dalam bidang sains dan
teknologi. Negara anggota diharapkan dapat menjadikan seluruh kesempatan dan
pembahasan yang dihasilkan dalam KTT OKI ini sebagai agenda prioritas
dinegaranya masing-masing. Pertemuan ini diharapkan juga menjadi titik balik
kemajuan negara-negara islam dalam bidang sains dan teknologi. Sekretaris
Jenderal OKI Yusuf Al-Utsaimin mengatakan, perkembangan sains dan teknologi
harus bisa dilakukan dengan masif. Kemajuan sains dan teknologi menandakan
bahwa suatu zaman bergerak dan berkembang. Menurut dia, perlu keseriusan dari
negara anggota OKI untuk mengadopsi kemajuan teknologi yang dibahas dalam
pertemuan kali ini. Yusuf berharap kerja sama antara negara anggota OKI bisa
lebih baik dari tahun ke tahun, sehingga islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin
bisa berkembang pesat dan memberikan banyak pengaruh bagi seluruh umat.
Tema
sains dan teknologi pertama kali dicetuskan oleh presiden Kazakhstan Nursultan
Nazarbayev dalam pertemuan sebelunya di istanbul tahun lalu. Menurut dia,
banyak tantangan dalam bidang kemajuan sains dan teknologi yang harus
dikembangkan oleh negara-negara islam. Islam mempunyai sejarah yang baik untuk
perkembangan sains. Hal ini harus menjadi semangat bersama agar negara islam
bisa bersatu untuk mengembangkan teknologi. “Seperti contohnya, Indonesia
Negara yang mempunyai pertumbuhan pendidikan dan kemajuan riset sains dan teknologi
yang bagus. Kita bisa bersama-sama saling bertukar pikiran dan merumuskan
kebijakan strategis, sehingga bisa bersama sama mengembangkan ilmu pengetahuan,”
ujar Nazarbayev di Independen of Palace, Kazakhstan, ahad (10/9).
SelainIndonesia, negara lain seperti Turki, iran dan arab saudi juga mempunyai
peran sama dalam mengembangkan teknologi. Meski begitu, Nazarbayev tak menampilkan
beberapa negara islam yang perkembangan sainsnya masih butuh dorongan.
Nazarbayev
berharap negara-negara islam bisa memprioritaskan program dan kebijakan di
negaranya masing-masing untuk mendorong kemajuan sains dan teknologi , Nazarbayev
juga berpesan, bahwa peningkatan ilmu pengetahuan juga harus didorong dengan
anggaran yang cukup, sehingga dengan anggaran mempunyai alokasi khusus untuk
kemajuan teknologi. Dalam kesempatan itu, Nazarbayev mengatakan, Indonesia
merupakan salah satu negara yang memiliki pertumbuhan pendidikan yang baik.
Perkembangan sains dan teknologi di
Indonesia. Kazakhstan bersama Indonesia sudah lama bekerja sama dalam bidang
Pendidikan. Wakil Presiden Rebuplik Indonesia Yusuf Kalla mengatakan,
kedepannya akan banyak hal bisa dikembangkan oleh negara-negara islam dalam
bidang sains dan teknologi. Dia mengatakan, Pertemuan ini sangat revelan di
tengah perkembangan global.
“Agenda
sains dan teknologi saat ini harus bisa diadopsi dan diimplementasikan dalam
kebijakan. Hal ini menjadi salah satu cara agar kemajuan muslim bisa semakin
membaik dan terdepan,” ujar Kalla. Di Indonesia, kata mengembangkan sains dan
teknologi dimulai dari bidang pendidikan. Di depan banyak kepala negara, Kalla
mengatakan, sistem Pendidikan di Indonesia mengedepankan kreativitas dan
keterbukaan, sehingga para pelajar bisa meningkatkan sains dan teknologi. “Hal
tersebut bisa dilihat dari bagaimana kami mengembangkan sekolah vokasional.
Pendidikan menjadi modal awal untuk bisa mengembangkan sains dan teknologi,”
kata dia. Kalla juga sempat menjelaskan bahwa banyak hal yang sedang
dikembangkan Indonesia. ”Indonesia membuka kesempatan seluas luasnya bagi
seluruh negara anggota OKI untuk bisa bekerja sama dan melakukan pengembangan
bagi sains dan teknologi kedepan,” ujarnya.
Beasiswa OKI
Sekjen
OKI Yusuf Al-Utsaimin mengatakan, OKI akan membuka kesempatan beasiswa untuk
para mahasiswa negara anggota OKI. Yusuf mengatakan, hingga kini, OKI telah
memberikan 2.000 Lebih mahasiswa berprestasi. Target realisasi beasiswa OKI
pada 2025 mencapai 500 ribu mahasiswa dari negara anggota. “Kami sangat
mendukung kemajuan pendidikan OKI sendiri akan tetap memberikan beasiswa
terhadap mahasiswa pilihan dan berprestasi untuk bisa mengakses pendidikan
katanya.
Referensi : Rebulika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar