Pages

Kamis, 07 September 2017

Jokowi : Perpres PPK Sudah Komprehensif



Artikel Berita
Hari                : Kamis
Tanggal          : 7 Agustus 2017


Perpres Penguatan Pendidikan Karakter


Perpres Penguatan Pendidikan Karakter : Presiden Joko Widodo Bersama Menko PMK Puan Maharani, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas dan para pimpinan Ormas Islam lainnya bersiap meninggalkan ruangan seusai memberikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (6/9). Presiden telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa yang berbudaya.
Referensi         : Republika

Jokowi : Perpres PPK Sudah Komprehensif
Perpres PPK Harus Dilengkapi Juknis

Presiden Joko Widodo bersama Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Ketua Umum PBNU Said Siradj, Ketua PP Muhammadiyah Anwar dan Para pempinan Ormas Islam lainnya bersiap meninggalkan ruangan usai memberikan keterangan Pers di Istana Merdeka, Jakarta Rabu (6/9). Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa yang berbudaya.

JAKARTA-
Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Perpres resmi diterbitkan pada Rabu (7/6). Lewat Perpres ini Jokowi berharap agar pendidikan karakter dapat berjalan baik di sekolah-sekolah umum maupun pesantren dan madrasah.
“Baru saja saya menandatangani Perpres penguatan Pendidikan Karakter didampingi oleh para Kiai dan pemimpin Ormas. Saya sangat berbahagia sekali bahwa semuanya memberikan dukungan penuh terhadap Perpres Penguatan Pendidikan Karakter ini,” Ujar Mantan Gubernur DKI Jakarta, Di Istana Merdeka. Berdasarkan Pernyataan resmi yang dikutip SP dari halaman resmi http://setkab.go.id/category/berita/ , diberitakan sebelum menandatangani Perpres, Joko Widodo terlebih dahulu melakukan diskusi saat menerima sejumlah masuikan dari pimpinan atau perwakilan dari lembaga maupun organisasi sosial keagamaan. Diskusi dihadiri oleh perwakilan dari PBNU, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Jam’iyatul Al-Washliyah, Dewan Dakwah Islam Indonesia, Mathla’ul Anwar, Tarbiyah Islamiyah, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah, Rabithah Ma’ahid Islamiyah, MUI, Muhammadiyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia dan PP Persis.
            Selain Itu Jokowi juga didampingi, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara (Mensekneg) Pratikno, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Jokowi mengatakan, Perpres PPK disiapkan berdasarkan masukan-masukan dari pimpinan-pimpinan ormas yang ada, sehingga Perpres PPK betul-betul sebuah Perpres yang Komprehensif. Ia jua memastikan bahwa Perpres tersebut akan segera ditindak lanjutkan dengan membuat petunjuk pelaksanaan dan teknis  sehingga bisa diterapkan di lapangan. “ini juga memberikan payung hukum bagi menteri, gubernur, bupati dan wali kota dalam menyiapkan anggaran untuk penguatan pendidikan karakter baik di madrasah, sekolah, dan di masyarakat. Saya kira kekuatan kepentingan Perpres ini ada disitu,” tuturnya.
Sementara Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, Perpres PPK Tidak otomotis mudah diimplementasikan dilapangan, perlu diterjemahkan kembali dalam aturan turunan dari Prepres, bisa semacam petunjuk teknisnya (Juknis). Menurut Retno, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi PPK. Yakni karakter tidak bisa di teorikan apalagi ditekan pada anak. “Karakter harus dibangun melalui seluruh proses pembelajaran disekolah. Membangun karakter harus dimulai degan membangun budaya sekolah ( School culture). Artinya melibatkan seluruh stakeholder disekolah, mulai dari pendidikan, tenaga  kependidikan, kepala sekolah, siswa dan bahkan orang tua serta masyarakat sekitar, karena karakter tidak bisa diteorikan,” kata mantan kepala sekolah SMA N 3 Jakarta ini berdasarkan siaran pers diterima SP. Selanjutnya Retno mengatakan membangun karakter itu harus dimulai dari orang dewasa dilingkungan rumah dan sekolah, anak butuh belajar dari model atau role model di sekitarnya, sebab 70% perilaku anak-anak adalah meniru.
Menurut Retno, jika sekolah ingin menanamkan karakter jujur, maka harus dimulai dari kepala sekolah yang mengelola keuangan sekolah secara transparan, laporan keuangan dapat diakses di website sekolah, dan hal lainnya. “ kalau kepala sekolah mencontohkan transparan maka anak OSIS pun pasti meniru dengan mengelola uang secara transparan dan melaporkannya juga secara transparan kepada publik. Anak butuh terladanan,” ucapnya.
Konsisten-                                                                                                                                                          
Retno menegaskan, hal ini harus dilakukan secara konsisten dan terus menerus. Selain itu, tentunya harus dimulai dari guru dan kepala sekolah yang harus menjadi model atau teladan terlebih dahulu. Pasalnya keberhasilan PPK sangat ditentukan oleh faktor pendidikan yang akan jadi role model bagi peserta didik. Mantan Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) ini juga mengatakan, PPK berhasil diimplementasikan oleh satuan pendidikan, jika pemerintah berkonsentrasi penuh melatih dan mempersiapkan guru. Sebab guru harus menjadi teladan. Dalam hal ini, Pemerintahan juga harus bekerja keras memenuhi 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP), yaitu Standar kompetensi lulusan, Standar Proses, Standar Pendidik, dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolahan, Standar Pembiyaan Pendidikan dan Standar Penilaian Pendidikan.
Referensi         : Suara Pembaruan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Facebook

https://www.facebook.com/Ritdah?pnref=about

Twitter

@muitdah

Gmail

muitdah@gmail.com