Artikel Berita
Hari : Rabu
Tanggal : 13 September 2017
Petani
Kesejahteraan Lewat Agrobisnis
Menteri Pertanian
: Andi Amran Sulaeman bersama para menteri dan pejabat lain, menyimak sambutan
Presiden Joko Widodo saat pembukaan rapat terbatas terkait kesejahteraan petani
di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (12/9).
JAKARTA-
Peningkatan kesejahteraan petani tak
hanya melalui pembenahan urusan benih, pupuk, dan pestisida. Cara lain yang
bisa dilakukan untuk menyejahterakan adalah dengan mengajak petani memasuki
agrobisnis. Dalam Rapat terbatas terkait korporatisasi petani di Kantor
Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (12/9). Presiden Joko
Widodo menyampaikan keinginannya agar ada terobosan untuk memperbaiki
kesejahteraan petani untuk mewujudkan hal itu, paradigma perlu di ubah.
“Jangan
sampai kita banyak berkutat disektor budidaya yang berkaitan dengan benih,
pupuk dan insektisida, Itu memang penting. Akan tetapi, kalau ingin mendapatkan
keuntungan besar paradigma kita harus masuk ke agrobisnismu. “ kata Presiden.
Rapat
dihadiri antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan
Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Padjaitan. Menurut Presiden,
dengan perubahan paradigma ini, petani-petani diajak berkumpul dalam satu
kelompok besar yang memiliki industri modern, penggilingan modern, kemasan yang
modern, industri pengolahan pascapanen, serta manajemen sekaligus pemasaran
yang modern. Untuk memiliki itu semua, bank bisa mendukung dengan akses kiredit,
sepanjang diyakini bisa menghasilkan profit.
Dalam
Rapat itu, Ketua PT BUMR Pangan Terhubung, Sukabumi, Luwarso, mengatakan dengan
memiliki proses industri dan distribusi sendiri, rantai pasok beras menjadi
semakin pendek. Dampaknya efisiensi tercapai dan petani menikmati pendapatan
yang lebih baik. Luwarso, berharap kelompok petani bisa mendapatakan pinjaman
tanpa jaminan dan ada waktu tunda untuk memulai pembayaran cicilan. Menteri
Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan Korporatisasi petani akan dilakukan
secepatnya. Namun, diperlukan koordinasi antara BUMN, Perum Bulog, dan
Kementerian Perdagangan. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Suprajarto mengatakan, BRI akan mempelajari kemungkinan skema pembiyanaan untuk
kelompok petani yang mengembangkan bisnis. “Yang penting ada yang bertanggung
jawab dan yang bertanggung jawab ini menguasai bidang yang dimasuki,” Katanya.
Referensi : Kompas
Petani Harus Mulai Berbisis
Presiden
Joko Widodo memimpin Rapat Terbatas membahas Proses bisnis bagi petani dikantor
Kepresidenan, Jakarta, Selasa (12/9/2017). Selain sejumlah menteri pejabat
terkait rapat juga menghadiri pengurus Badan Usaha Milik Rakyat Pangan
Terhubung Sukabumi.
JAKARTA-
Presiden Joko Widodo memenuhi Janji Untuk mengundang
pengurus Badan Usaha Milik Rakyat Pangan Terhubung BUMR PT Sukabumi ke Istana
Kepresidenan. Disana, pengurus BUMR PT mempresentasikan model bisnis yang
mereka jalankan kesejumlah pejabat dalam rapat terbatas, Selasa (12/9/2017).
Joko Widodo menyatakan, pertanian tidak boleh lagi berkutat pada proses on farm
dan budi daya, tetapi harus masuk keproses bisnis. Sebelumnya Jokowi pernah
datang kelokasi BUMR PT di Sukabumi kerjanya yang bertepatan dengan Idul adha.
Saat itu Jokowi mengatakan, akan mencoba menerapkan model bisnis BUMR PT di
daerah lain. Oleh karena itu, ia berjanji akan mengundang pengelolanya ke
istana. Pengelola BUMR PT yang kemarin
hadir memenuhi undangan presiden adalah Luwarso. Rapat terbatas berlangsung
selama satu jam, di mulai dari Pukul 14.00. Dalam pertemuan itu, juga hadir
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Hadir
pula Menteri Pertaniaan Amran Sulaiman, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Siti Nurbaya Bakar, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Direktur Umum Perum
Bulog Djarot Kusumayakti.
Luwarso
mengakui, ia tidak terlalu banyak bicara didalam rapat terbatas yang dihadiri
oleh para pejabat negara itu. “Beliau (Jokowi) yang banyak bicara tentang
konsep ini. Kelihatannya sudah jadi mimpi berliau,” katanya seusai rapat. Salah satu ciri khas
BUMR PT adalah usahanya yang mengumpulkan petani petani untuk kerja bersama.
BUMR PT menyediakan pendamping, mulai dari Proses penanaman padi hingga
pascapanen. Pendamping itu juga yang bertugas membantu para petani yang akan
menggarap lahan untuk mendapatkan pinjaman dari bank. Menurut Luwarso, Jumlah
petani yang bergabung dengan BUMR PT berkisar antara 800 – 2.400 orang,
tergantung musim tanamnya. Dengan rata-rata 2.400 petani yang digabungkan, kata
dia, itu sama dengan menggarap sawah seluas 1.000 hektare.
Salah
satu keunggulan BUMR PT sehingga membuat Jokowi terkesan adalah Peralatan
Pengolahan padi yang modern di pabriknya di Kelurahan Pasirhalang, Kecamatan
Sukabumi. Luwarso mengatakan, usaha pengelolahan pangan beras itu telah
berlangsung selama 24 tahun . Terkait dengan peniruan model bisnis BUMR PT oleh
Pemerintah, Luwarso mengaku tidak bisa menjawabnya. Dalam rapat, Jokowi tidak
secara jelas mengatakan hal tersebut. Namun menurut dia,sudah merupakan hal
yang terbaik baginya karena telah diberikan kesempatan untuk memaparkan model
bisnis BUMR PT. “Saya orang pertama yang ikut rapat kabinet, tapi bukan
(anggota) kabinet. Pemecahan rekor,” katanya sambil bercanda.
Dia
mengungkapkan, ada kemungkinan komunikasi dengan pemerintah akan bergulir meski
rapat telah usai. Menurut Luwarso, bila memang ada yang positif dari model
bisnis untuk mencontoh. Menteri Pertanian Amran Sulaiman Mengatakan, Konsep
BUMR PT bagus. Pihaknya akan melakukan sinergi dengan kementerian terkait untuk
menindaklanjutinya. Menurut dia anggaran telah disiapkan untuk tahun depan. Ia
tidak menjelaskan lebih terperinci ketika ditanya jumlah anggaran yang
dimaksud. “Kami rancang dulu. Kami akan sinergi dengan BUMR, Bulog, dan
(Kementerian) Perdagangan,” Katanya. Mengawali rapat terbatas, Jokowi
mengatakan, perlu ada perubahan paradigma dalam upaya menyejahterakan petani.
Kini, upaya untuk menyejahterakan petani harus masuk kedalam proses bisnis.
Jadi, tidak semata-mata proses on fram dan budi dayanya.
Petani,
kata Jokowi, akan dapat untung besar dari proses bisnisnya, bukan dari proses
on farm atau budi daya. “Jangan sampai terlalu berkutat disektor budi daya yang
terkaitan dengan benih, pupuk dan insektisida. Betul itu penting. Tapi, kalau
kita ingin beri keuntungan besar, sekali lagi, paradigma harus kita ubah. Kita
harus masuk kesektor proses bisnisnya, proses agrobisnisnya,” ujarnya. Jokowi
mengharapkan agar petani kedepannya, memiliki sendiri industri benih, aplikasi
produksi modern, dan industri pengolahan pascapanen yang modern. “Proses-proses
agrobisnis inilah sebetulnya akan memberikan nilai tambah yang besar,”
tuturnya. Memulai industri pengolahan pangan yang modern membutuhkan dana yang
besar. Terkait dengan hal ini, Jokowi mengatakan, dana yang besar itu bisa
disokong oleh pinjaman dari perbankan. “Asal hitung-hitungnya feasible, asal bank
masuk kesana dan dihitung bankable, ya itu yang kita cari,” ujarnya.
Referensi : Pikiran
Rakyat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar