Hari :
Kamis
Tanggal
: 3 Agustus 2017
PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP 2017
KORAN
RAKYAT MERDEKA
Halaman
11
DI ATAS PODIUM : Menteri
Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani Memberikan
kepada peserta Rakernas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017
di Jakarta, Kemarin.
KORAN
POS KOTA
Halaman
10
Perlu Revolusi Mental Menyelamatkan
Hutan
Menko PMK, Puan
Maharani memberikan mengarahan kepada peserta Rakernas Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan tahun 2017 di Auditorium Gedung Manggala Wanabakti,
Kementerian LHK, Jakarta, Rabu (2/8).
JAKARTA
– Pemerintah menyatakan keprihatinannya melihat Taman Nasional Lorentz di Papua
Barat serta Taman Nasional Tropical Rainforest Heritage Sumatera (TRHS).
“THRS sudah mulai terganggu dan
karenanya masuk dalam endangered list, sedangkan Taman Nasional Lorentz
terancam masuk katagori endangered,” kata Menko Pembangunan Manusia dan
Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, dalam paparannya pada rakernas kementerian
Lingkungan hidup dan Kehutanan, Rabu (2/8).
Karenanya menjadi tugas kita semua
untuk bergotong royong menyelamatkan taman nasional dan kawasan hutan yang
menjadi warisan dunia.
Menurut Puan, perlunya gerakan
revolusi mental untuk menyelamatkan kawasan hutan, baik sebagai sumber daya
produksi maupun jasa lingkungan.
Konsep revolusi mental itu sendiri
sudah dilaksanakan menjadi lima gerakan. Seperti Gerakan Indonesia Melayani,
Indonesia Tertib, Indonesia Bersih, Indonesia Mandiri, dan Indonesia Bersatu.
Sementara sebagai gerakan moral, Revolusi mental itu sendiri mendorong
tumbuhnya integrasi, kerja kerat dan gotong royong.
Kawasan hutan Indonesia mencapai 121
Juta Hektar, sebagaian besar dimanfaatkan untuk produksi dan memperluas pusat
pertumbuhan. Namun, Puan mengingatkan agar hendaknya Pembangunan disektor
Kehutanan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan yang ada.
KORAN SINDO
Halaman 5
Program
Berorientasi Proyek Harus Dihentikan
Presiden Joko Widodo
menanam pohon jati disaksikan Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan (LHK) Siti
Nurbaya dan Menko Perekonomian Darmin Nasution disela peringatan Hari
Lingkungan Hidup 2017 di Kompleks Manggala Wanabakti Kementerian LHK, Jakarta,
kemarin. Presiden menyampaikan sambutan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup.
Acara juga dirangkai dengan rakernas yang dihadirkan empat Menteri Koordinator,
Termasuk Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Membahas
Kajian Lingkungan.
JAKARTA
– Presiden Joko Widodo meminta program berorientasi proyek pada pengelolaan
hutan harus di hentikan. Pengelolaan hutan harus memperhatikan aspek ekonomi
lingkungannya.
Kepala Negara mengatakan sudah
terlalu pengelolaan hutan dilakukan hanya dengan berorientasi pada proyek
semata. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengaku memilih data siapa saja yang
bermain proyek di sektor perhutanan. Pasalnya dalan mengelola hutan dibutuhkan
sosok yang memiliki jiwa mulia dan etos kerja yang baik yang benar-benar
menjalankan amanat untuk melindungi hutan. Diapun menegaskan hutan lindung
harus lah dilindungi.
“Jangan hanya namanya taman
nasional, tapi diperogoti sedikit-sedikit. Tahu-tahu sudah ratusan atau ribuan
hektare, kita biarkan. Jangan terus-terusan seperti itu. Nanti dalam forum
tertutup, akan saya buka semuanya,” Ujar Presiden saat hari Lingkungan hidup
2017 di kompleks manggala. Wanabakti Kementerian Lingkungan, Jakarta kemarin.
Dia mencontohkan pengelolaan hutan
yang dilakukan negara lain. Dinegara yang di Contohkan Presiden itu,
pengelolaan hutan dapat memberikan sumbangsih bagi kegiatan ekonomi derigan
tetap memperhatikan pelestarian lingkungan. “saya ingin memberikan contoh
Swedia dan Finlandia. Ekonominya hampir 70 – 80 % berasal dari pengelolaan
hutan yang baik. Saya kira-kira tidak usah sulit-sulit tiru dan nanti
disesuaikan dengan keadaan hutan negara kita “ Paparannya”.
Presiden kemudian meminta jajarannya
di Kememneterian Kehutanan Dan Lingkungan Hidup untuk mempelajari bagaimana
kedua negara tersebut mengelolaan hutannya dengan memperhatikan aspek
lingkungan dan ekonominya. Dia secara
tegas mengingatkan segera hentikan program maupun rencana kehutannan yang
bereorientasi proyek.
“Penting memiliki sebuah strategis
besar pembangunan hutan yang memiliki dimensi ekonomi dan lingkungan. Kita
perlu melakukan Sebuah koreksi besar, mestinya ada Corrective action agar ada
sebuah terobosan, “ katanya.
Bagi Presiden pengelolaan hutan yang
dilakukan haruslah memperhatikan dimensi ekonomi dan lingkungan. Artinya
pemanfaatan nilai ekonomis hutan harus seimbang dengan upaya pelestariannya.
Dalam acara itu, Presiden turut
menyaksikan penyerahan penghargaan Kalpataru dan penghargaan lingkungan hidup
lain untuk 2017. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup
dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dengan di dampingi Menteri Koordinator
Perekonomian Darmin Nasution.
Tahun ini Kalpataru diberikan kepada
10 penerima. Sementara penghargaan lainnya yang berupa Adipura Kencana
diberikan kepada 6 orang, Adipura kepada 16 orang, Adiwiyata Mandiri kepada 24
orang, dan Nirwasita Tantra kepada 9 orang yang terdiri atas 3 gubernur, 3
bupati dan 3 wali kota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar