KORAN
MEDIA INDONESIA
Halaman
C3 dan 13
Kerja Bersama Dalam Keragaman
Peringatan:
Hari Lahir Pancasila – Presiden Joko Widodo Bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla
berfoto bersama dengan para Menteri Kabinet Kerja Usai Peringatan Hari Lahir
Pancasila di halaman Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Jakarta.
Presiden menekankan tentang keberagaman suku bangsa, agama dan ras yang ada di
Indonesia tetapi harus bersatu membangun bangsa.
Pada
saat melakukan Kunjungan kerja ke Jawa Tengah Periode Mei lalu, Presiden Joko
Widodo kembali mengingatkan soal keberagaman bangsa dari bahasa, Suku, hingga
agama. “ Kadang kalau tidak di ingatkan kita sering lupa bahwa bahwa negara
kita ini sangat beragam. Memiliki agama yang berbeda – beda, bahasa dan suku
yang bermacam – macam, “ Jelas Presiden.
Indonesia
merupakan negara besar memilik sekitar 17.000 Pulau, 516 Kabupaten, 34
Provinsi, 714 Suku dan lebih dari 1.100 bahasa lokal. Oleh karena itu,
imbuhnya, keberagaman Indonesia merupakan anugerah yang sejatinya harus
diterima dan disyukuri, “ maka itu memperkuat ukhuwah islamiah dan uhkuwah
wathaniah. Jangan ada yang saling menyalakan, menjelekkan, menghina, saling
mencemoh. Itu semua tidak boleh, harus kita hentikan, “ ujar Presiden.
Belakang,
ia memang giat mengajak masyarakat untuk mengingat kembali ke Bhinekaan di
Tanah Air. Presiden berharap masyarakat tidak saling mencemoh, menghindari
Fitnah, dan tidak menjelekkan sesama.
“Itu
bukan budaya bangsa Indonesia yang penuh dengan nilai kesantunan dan kesopanan,”
katanya dalam satu kesempatan berbeda. Ia pun rajin berpesan agar masyarakat tidak terpecah hanya
karena perbedaan pilihan dalam pilkada ataupun Pilpres. “ Jangan sampai dengan
tetangga gesekan gara-gara pilihan bupati, Gubernur, Pilpres, ndak! Kita ini
saudara, harus semua rangkulan, negara besar, “ Tegasnya.
Pada
Kesempatan lain, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menegaskan, Keberagaman
menjadi Kekuatan penting yang dimiliki Indonesia karena perbedaan yang ada
mampu di jaga sehingga tidak menimbulkan partikaian dan konflik yang merusak,
Suku, adat-istiadat dan kebudayaan yang berbeda di Indonesia, Justru dapat
menjadi Kekuatan tersendiri asalkan semua pihak bahu membahu.
“Kekuatan
bangsa ini justru karena perbedaannya kita lihat bagaimana keberagaman menjadi
indah dan menguatkan bangsa ini. Coba tanyakan kalau negeri ini pecah-belah,
orang Jawa harus pakai paspor ketika akan ke mengunjungi orang Batak dan
sebagainya,” kata jusuf kalla separuh berkelakar dalam suatu acara di Jakarta.
Karena
itu, tema HUT RI yang diangkat tahun ini yaitu 72 tahun Indonesia kerja keras
bersama. Contoh nyatanya ialah dulu para pendahulu kita bekerja bersama
membangun NKRI.
Dukungan Politik
Pemerintahan memang menaruh atensi
besar pada upaya merawat keberagaman. Halm itu menjadi krusial di tengah
maraknya hoax (Berita Palsu) dan menyebarkan ujaran kebencian, juga perilaku
yang menyiratkan radikalisme dan menyimpang dari pancasila sebagai ideologi
bangsa. Salah satu upaya pemerintah dalam merawat kesatuan bangsa antara lain
dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang – Undang (Perppu)
tentang Ormas. Perppu itu mengatur kewenangan Kementerian Hukum dan HAM secara
langsung mencabut izin Ormas yang bertentangan dengan Pancasila.
Menteri
Koordinasi Politik Hukum dan keamanan Wiranto mengemukakan, Penerbitan Perppu
lantaran Undang – Undangan ormas yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD
1945. : Perlu diingat ada (gerakan) idelogi negara,dan di sosialisasilan di
Publik.
Kalau
kita khilaf dan alpa, bisa jadi nanti kita terlambat,” tuturnya. Menko Polhukam
juga meminta dukungan dan kerja sama masyarakat, termasuk generasi muda dalam
mendukung upaya pemerintah menjadi eksistensi Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI). Ketika berpidato di Universitas Gorontalo Misalnya, ia
menyampaikan tentang urgensi langkah antiradikalisme.
“Ancaman
terbesar bangsa saat ini ialah gerakan radikalisme, yang ingin merusak NKRI
dengan paham-paham kekerasan sehingga harus diperangi bersama. Saya ingin adik
– adik menyampaikan kepada masyarakat supaya jangan salah tafsir. Pemerintan
tidak sewanang – wenang tapi justru ingin merawat persatuan dan kesatuan bangsa
dari rongrongan radikalisme, “ ujarnya di hadapan para mahasiswa peserta kuliah
kerja nyata (KKN) Kebangsaan.
Ketegasan
Adapun
menyebarnya paham – paham yang tidak sesuai dengan Pancasila tidak melepas dari
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Menurut Menteri Komunikasi dan
informatika Rudiantara, Penyebaran Paham – paham radikal semakin marak dilakukan
di media sosial. Paham radikal disisipkan dalam berbagai platfrom medsos
sehingga memudahkan penyisipan doktrin – doktrin bahkan benih terorisme. “
Internet ini seperti pisau bermata dua.
Nah
kita mencoba memitigasi negatifnya “ tuturnya seusai menghadiri deklarasi anti
radikalisme di Universitas Padjajaran, Bandung, Juli lalu, untuk menekankan
segala bentuk benih – benih radikalisme dan terorisme di media sosial perlu
adanya sinergitas antara pemerintah dengan penyedia plat form, namun jika
platfrom tidak bisa kooperatif dalam pemberantasan radikalisme, ia terpaksa
akan melarang untuk beroperasi di Indonesia , “ Pemerintahan tidak mempunyai
atensi untuk menutup Platfrom.
Tapi
kalau tidak ada perbaikan, kami terpaksa akan mempertimbangkan, “ ujarnya.
Menurutnya sejak 2016, platfrom internasional hanya menutup 50% dari yang
diminta kemenkominfo untuk ditutup. Hal itu di anggapnya mengecewakan sehingga
pemerintah perlu bertindak konkret. Salah satu platfrom yang merasakan ketegasan pemerintah indonesia
adalah aplikasi messenger Telegram pada Juli, setelah bersepakat dengan Badan
Intelijen Negara (BIN), dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT),
Komenkominfo memblokir situs telegram lantaran acap disalah gunakan sebagai
ajang penyebaran ajaran radikal yang mengarah pada terorisme.
Setelah
hampir sebulan di blok penyediaan layanan pesan singkat Telegram kembali bisa
diakses penuh di indonesia, Normalisasi itu dilakukan pemerintah setelah pihak
telegram menyetujui sejumlah syarat termasuk menutup konten radikalisme dan
terorisme.
Menurut
Rudiantara, Pihaknya dan Telegram sudah mencapai kesepakatan soal penanganan
konten bermuatan radikalisme dan terorisme, Telegram misalnya akan menugaskan
tim yang secara khusus akan berkomunikasi dengan pemerintah.
Media
Sosial, lanjut Rudiantara pada hakikatnya adalah untuk memberi nilai tambah
apakah aktifitas ekonomi atau tranformasi sosial, “ jangan untuk yang lain.
Teknologi memang seperti pedang bermata dua, positif dan negatif tapi
positifnya yang diperbanyaklah,” pintarnya.
Memontum
72 tahun Indonesia merdeka wujudkan membangun bangsa dan negara dalam beragaman
untuk dapat kerja bersama.
Program Satu Juta Rumah Terus Dipacu
Kinerja
Pembangunan Program Satu juta Rumah sebagian bagian dari Nawacita kabinet
Presiden Jokowi diyakini pada tahun ini lebih baik di bandingkan periode –
periode sebelumnya.
KORAN
REPUBLIKA
Halaman
G
PUAN MAHARANI
Masih
banyak warga Indonesia yang tidak menghargai lagu Kebangsaan Indonesia saat
berkumandang dalam beberapa acara yang saya hadiri, ada yang hanya duduk
terdiam, ada saj yang enggak berdiri, baru selesai di ingatkan di goyang-goyang
temannya dia baru berdiri. Harusnya disuruh atau tidak kita harus berdiri bila
terdengar lagu “ Indonesia Raya”.
Mengambil
sikap berdiri sempurna dan turut menyanyikan lagu “Indonesia Raya” saat
mendengarnya berkumandang merupakan refleksi dari kecintaan terhadap Tanah Air.
Selain itu hal ini menjadi bukti penghormatan dan penghargaan terhadap pahlawan
yang telah berjuang dalam memerdekakan bangsa.
Berkaca
pada Thailand, setiap warganya akan berhenti beraktifitas saat mendengarkan
lagu kebangsaannya di nyanyikan, saya data ke Thailand, saya lihat yang jalan
tiba-tiba berhenti, yang duduk berdiri, semua diam. Saya tanya ada apa? Ternyata
sekitar situ ada suara lagu kebangsaannya berkumandang dan sekitar dua menit
mereka benar-benar menghormati, kenapa negara luar bisa menghormati lambang
negaranya ? kita ini masih perlu punya rasa kecintaan terhadap Tanah Air untuk
kita tingkatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar